Rupiah Melimpah, Petani Tetap Susah
![]() |
| peladangan kol warga Nagari Sungai Nanam, Kabupaten Solok |
Melimpahnya produksi
tanaman hortikultura di Kecamatan Alahanpanjang dan Lembah Gumanti, Kabupaten
Solok, berimbas pada geliat perekonomian daerah setempat. Namun alih-alih
sejahtera, nyatanya perekonomian petani rata-rata belum sebaik apa yang
dipikirkan.
Ya, semuanya lebih banyak
tersedot guna menutupi biaya operasional. Terutama untuk membeli pupuk dan
racun hama, ataupun penyubur tanaman. Paling tidak, jika cuaca baik, perawatan
bawang normalnya untuk 100 kg bibit, menghabiskan pupuk sekitar 150 kg. Namun,
jika cuaca kurang mendukung, dapat menghabiskan pupuk 200 kg dalam waktu tiga
bulan lebih atau sampai dipanen.
Biasanya, setiap 1 hektare lahan, dapat ditanami 600 kg hingga 700 kg bibit bawang. Dalam praktiknya, peladangan menghabiskan sampai 1 ton pupuk.
Biasanya, setiap 1 hektare lahan, dapat ditanami 600 kg hingga 700 kg bibit bawang. Dalam praktiknya, peladangan menghabiskan sampai 1 ton pupuk.
“Sederhananya
untuk menghasilkan 1 kg bawang merah, biaya produksi mencapai Rp 6.000 hingga
Rp 8.000,” terang Zul Adris Muncak Sati, 35, warga Jorong Tarataktangah, Nagari
Sungainanam.
Sedangkan
tanaman kol atau lobak untuk 1.000 batang bibit, dari masa tanam hingga panen
bisa menghabiskan pupuk 50 kg. Begitu juga tanaman lain,
seperti cabai, tomat, kentang dan seledri.
Tingginya kebutuhan pupuk
sepertinya tidak menjadi kendala bagi para petani. Mereka sadar tanpa pupuk
tanamannya tidak akan berkembang baik. Namun seiring tersendatnya distribusi
pupuk, petani sayur kelabakan. Kalaupun ada, pupuk bersubsidi dijual dengan
harga selangit di kios-kios. Misalnya harga pupuk SP36, dijual seharga Rp 190
ribu. Padahal, harga eceran tertinggi (HET) pupuk ini hanya Rp 100 ribu. Begitu
juga pupuk urea dijual Rp 110 ribu, ZA Rp 90 ribu atau pupuk potzka Rp 150 per
zak.
“Sudah berpuluh-puluh
tahun saya jadi petani, namanya pupuk subsidi itu lebih murah. Kok sekarang
selalu tinggi. Padahal, kita tahu HET-nya,” kritik Muncak.
Begitu juga keluhan
petani lainnya, Darmansyah, 35. Pupuk subsidi sering kosong ditemukan di
kios-kios. Akibatnya, petani merugi akibat produksi anjlok. “Walaupun mahal
tetap dibeli daripada hasil panen merosot. Kalau pemerintah mau membantu
petani, coba turun ke perladangan masyarakat. Subsidi pupuk selama ini hanya
dinikmati para pemain pupuk,” ungkapnya.
Anehnya, dalam rencana
definitif kebutuhan kelompok (RDKK), setiap kelompok tani (keltan) mendapat
jatah pupuk 60 hingga 80 ton per tahun. Namun realisasinya, dari 80 keltan
aktif di Sungainanam, hanya mendapat jatah 3 ton hingga 4 ton per tahun.
“Lebihnya ke mana? Pas kita tanya, kok pupuk subsidi habis? Jawab pedagang
kios, sudah ditebus oleh Pemkab Solok. Siapa yang melenyapkan pupuk itu,” tegas
Muncak yang merupakan anggota Kelompok Tani Bintang Timur di Sungainanam.
Belum lagi masalah racun
untuk membunuh hama penyakit tanaman. Setidaknya, perawatan 1 hektare tanaman
dalam masa satu kali musim panen menghabiskan biaya mencapai Rp 24 hingga Rp 30
juta. “Untuk Sumbar, petani hortikultura di Kecamatan Lembah Gumanti inilah
paling banyak membutuhkan racun hama,” sambung Zulkifli.
Selain menggunakan pupuk
buatan, para petani juga mengimbangi tanamannya dengan pemberian pupuk kandang.
Lebih 300 ton pupuk kandang dimanfaatkan petani di Nagari Alahanpanjang,
Sungainanam, Bukitsileh dan Simpang Tanjuang Nan IV dalam sehari. Pupuk kandang
untuk mengembalikan humus tanah agar subur. “Sungainanam saja 100 ton lebih per
hari pupuk kandang masuk,” sebut Muncak.
Harga dadak (nama lain dari pupuk kandang yang diberikan oleh para petani di sana) ini, berkisar Rp 13 ribu hingga Rp 14 ribu per karung berisi 40 kg kotoran sapi, kerbau, ayam yang sudah dikeringkan. “Pupuk kandang ini rata-rata dipasok dari Payakumbuh, Tanahdatar, Batusangkar, dan ada juga dari Padang,” tutur Dharmansyah.
Harga dadak (nama lain dari pupuk kandang yang diberikan oleh para petani di sana) ini, berkisar Rp 13 ribu hingga Rp 14 ribu per karung berisi 40 kg kotoran sapi, kerbau, ayam yang sudah dikeringkan. “Pupuk kandang ini rata-rata dipasok dari Payakumbuh, Tanahdatar, Batusangkar, dan ada juga dari Padang,” tutur Dharmansyah.
Pengoptimalan pupuk
kandang baru dilakukan sejak 10 tahun terakhir. Akibat selalu “makan” pupuk
buatan, kesuburan tanah terus menurun. Efeknya tentu pada produksi petani yang
kian menurun. “Saat ini, mayoritas petani pakai pupuk kandang, di samping
memang harus pakai pupuk buatan,” katanya.
Mayoritas petani
mengusulkan subsidi pupuk yang selama ini tak tepat sasaran, dialihkan untuk
pembangunan jalan-jalan pertanian. Apalagi, masih banyak peladangan petani
belum bisa dilewati kendaraan roda dua. Sehingga, untuk mengangkut pupuk
ataupun membawa hasil pertanian harus dipikul. “Hasil panen dimasukkan ke dalam
karung, dan dijujung (angkut) dengan kepala. Ini sangat menyulitkan kami para
petani,” sebut Dharmansyah.
Jarak permukiman
masyarakat hingga ke peladangan mencapai 10 km. Jarak ladang paling dekat
sekitar 3 km. “Kalau ladang petani yang sudah dilewati jalan, jelas beruntung.
Tak susah memikulnya. Bisa diangkut pakai motor atau mobil” katanya.
Selama ini jalan
pertanian warga dibangun secara swadaya. “Kalau jalan yang dibangun, jelas
manfaatnya untuk kami. Kalau pupuk yang kenyang bukan kami, tapi orang-orang
kaya juga,” sebutnya.
Di samping itu, efek
pupuk dan racun hama tanaman, juga sangat mempengaruhi kualitas air bersih di
kawasan-kawasan peladangan. Sehingga, dibutuhkan juga jaringan irigasi untuk
pengairan air bersih. Apalagi, saat ini untuk menyirami ladang, para petani
harus membeli pompa air yang biayanya tidak sedikit. Mencapai puluhan juta
rupiah. “Sumber air lokasinya jauh. Makanya untuk menyiram tanaman ketika cuaca
panas, kami harus mengalirkan dengan bantuan pompa air. Jaraknya pun mencapai 2
hingga 3 km,” imbuh Muncak.
Harapan ini juga
disampaikan Sekretaris Nagari Sungainanam, Adrizal. Dia mengatakan, sebagai
nagari yang semua penduduknya petani, kelancaran air untuk peladangan
masyarakat sangat mendesak. “Saya harap, pemerintah lebih memberikan ruang dan
harapan irigasi untuk petani hortikultura. Sebab, tak hanya tanaman padi yang
butuh air lancar, tanaman kami di sini juga penting air,” katanya. (bersambung.......)
Catatan: Tulisan ini
pernah dimuat di harian Padang Ekspres sekitar bulan Oktober 2015 silam. Saat
itu, penulis masih menjadi reporter Padang Ekspres)

0 Komentar
Silahkan komentari dengan santun..