Menyingkap Putaran “Rupiah” di Lumbung Hortikultura Sumbar (Bagian 1..

Alahanpanjang dan Sungainanam, Sentra Bawang Merah

Petani saat menyemprotkan pupuk ke ladang bawangnya di Nagari Sungai Nanam, Kabupaten Solok (Riki Chandra)

Selain Kotobaru dan Padanglua, Kabupaten Agam, Kabupaten Solok adalah nagari penghasil tanaman sayur terbesar di Sumbar. Kecamatan Alahanpanjang dan Lembah Gumanti menjadi lumbung tanaman hortikultura. Celakanya, krisis pangan masih menghantui penduduk Ranah Minang.
Nagari Sungainanam yang berada di Kecamatan Lembah Gumanti, tersohor karena penyuplai bawang merah terbesar di pasaran. Menyusul Nagari Airdingin, dan Nagari Salimpek pemasok terbesar kentang, kol, seledri, tomat, dan cabai. Nagari Simpang Tanjuang Nan IV di Kecamatan Danaukembar, dan Nagari Salayotanang/Bukit Sileh Kecamatan Lembangjaya, adalah nagari-nagari pemasok hortikulrura di Sumbar.
Dari pengamatan penulis, 90 persen masyarakat di daerah beriklim dingin itu berladang. Tak hanya petani, PNS maupun anggota DPRD sekalipun adalah petani.
Anugerah tanah subur ini tak disia-siakan masyarakat. Tak hanya di ladang, halaman rumah pun dipenuhi tanaman bawang, cabai, tomat, kol dan sebagainya. Nyaris tak ada ruang kosong tanpa tanaman hortikultura di setiap permukiman warga. Belakang, samping, dan depan rumah disulap jadi ladang. Begitulah realitas masyarakat di Nagari Alahanpanjang, Sungainanam, Simpang Tanjuang Nan IV, dan Salayotanang/Bukit Sileh di Kecamatan Lembangjaya. Tak heran, masyarakat di nagari-nagari itu mendirikan rumah di tengah perkebunan.
Setiap rumah warga terdapat irok (tempat penjemuran bawang yang terbuat dari kayu) yang dibuat bertingkat. Pemandangan ini mencolok di permukiman warga di Sungainanam. Hampir semua rumah tanpa irok. Ada yang menempatkan irok di samping rumah, belakang dapur, dan depan pintu rumah.
Setiap pagi, sekitar pukul 06.00, warga hilir mudik di jalan utama Nagari Sungainanam. Ada yang ke ladang dengan mtoro, atapun mobil pikap. Baju lengan panjang, topi bertudung, sepatu boat sambil menenteng parang, cangkul, dan penyemprot tanaman, menjadi pemandangan setiap pagi.
Ada yang membawa bibit tanaman, menurunkan pupuk kandang dari truk, adalah rutinitas kesibukan masyarakat di kampung perladangan itu.
Saban pagi, mulai pukul 05.30 hingga pukul 09.00, jalanan kampung sesak dengan lalu lalang sepeda motor atau mobil pengangkut pupuk, bibit, dan petani. Namun pukul 11.00 hingga pukul 16.00, seketika lengang. Mayoritas penduduk bersitungkin di ladang. Baru nanti sekitar pukul 17.00, kampung ini kembali ramai.
“Itu pun tidak lama, pukul 21.00 kembali sepi, karena penduduknya sudah tidur, capek bekerja seharian. Begitulah kegiatan masyarakat di Sungainanam setiap hari,” kata Malin Sutan, 43, warga Jorong Lekok Batugadang, Nagari Sungainanam,
pada penulis di perladangannya, sekitar akhir 2015 silam.
Bakda magrib, hanya beberapa sepeda motor melintas di depan rumah Malin Sutan yang berada di pinggir jalan utama Nagari Sungainanam. Nyaris tak ada kedai kopi dan sekumpulan pemuda bermain domino hingga larut malam. Cuaca dingin ditambah penat seharian berladang mengharuskan warga tidur lebih cepat. Lilitan kain sarung di leher menjadi ciri khas penduduk Sungainanam, Alahanpanjang, ataupun Bukit Sileh di malam hari.
Khusus Nagari Sungainanam, produksi terbesar adalah bawang merah. “Kalau dijual ke Bukittinggi, Padang, Pekanbaru, bacanya bawang Alahanpajang, makanya yang dapat nama selalu Alahanpanjang. Padahal, produksi terbesar ada di kampung kami,” terang Malin Sutan.
Muliadi Malin Sati, 43, warga Jorong Koto, Nagari Sungainanam menuturkan, tidak mudah menghitung jumlah produksi bawang dari nagari nagarinya. Sebab, tak ada musim panen. Saban hari adalah masa panen. Sebagai gambaran, besaran bawang merah yang keluar dari petani setiap minggunya mencapai 1.000 ton. Rinciannya, untuk kebutuhan pasar Bukittinggi dan Padangpanjang mencapai 500 ton/minggu. Untuk kebutuhan daerah Padang, Pesisir Selatan, Muarobungo, Pekanbaru, Riau, Rengat, dan Baganbatu dikirim 2 hingga 5 kali seminggu. Sedangkan produksi kol yang lebih kecil dibandingkan Alahanpanjang dan Bukit Sileh mencapai 100 ton sehari.
“Belum ada yang menghitung jumlah pasti berapa ton sayur-sayuran yang keluar sehari. Mungkin belasan ribu ton sayuran sehari,” terang Muliadi Malin Sati.
Lelaki berkumis tebal itu memaparkan, produksi seledri atau daun sup juga tengah “naik daun” di Sungainanam. Sekitar 10 ton seledri sehari dipanen dari ladang masyarakat. Seledri ini dipasarkan hingga Batam. “Sekitar 2 ton seledri dikirim ke Batam. Kalau tomat, wortel, kentang, cabai tidak sebanyak Alahanpanjang dan Bukit Sileh. Sungainanam andalannya bawang merah,” kata Muliadi.
Petani lainnya Zulkifli, 40, warga Jorong Lekok Batugadang, Nagari Sungainanam, mengatakan, alasan utama masyarakat tak putus-putus menanam bawang merah karena tanaman ini tak banyak pantangan. Selama 20 tahun pun berturut-turut, satu lahan perladangan ditanami bawang. “Kalau kentang, kol, cabai, tomat harus diselang-seling dengan tanaman lain setelah panen. Jika tidak, tanamannya kurang subur. Makanya, bawang merah lebih difavoritkan di sini,” sebut Zulkifli yang mengaku sejak SD sudah ke ladang.
Di Nagari Salayotanang, Bukit Sileh, pertanian juga menggeliat. Hanya saja, petani di sini tak hanya fokus pada bawang merah. Mereka cenderung menanam kol, kentang, tomat dan cabai. “Banyak masyarakat menanam bawang merah, tapi tak sebanyak di Sungainanam,” kata Arif Syahputra, 32, warga Jorong Data, Salayotanang Bukitsileh.
Umumnya petani Bukit Sileh mencampurkan beberapa jenis tanaman hortikultura dalam satu lahan. Misalnya, ladang cabai diselipkan tomat, seledri, selada dan lobak. Atau, ladang kentang diselipkan tanaman tomat, dan sebagainya. “Tapi yang dominan kentang dan lobak,” kata ayah dua putri ini.
Nedi, 46, petani lainnya di Bukitsileh, memprediksi produksi kentang di Bukit Sileh mencapai 200 ton sehari. Sedangkan produksi kol mencapai 200 ton sehari. “Tapi, sekitar 3 tahun ke belakang, rata-rata produksi petani menurun,” katanya.
Hasil pertanian mulai surut sejak Gunung Talang meletus tahun 2009. Letusan yang banyak mengeluarkan belerang, berdampak menurunnya kesuburan tanah. “Bukit Sileh ini persis di kaki Gunung Talang, makanya pasca meletus, kesuburan tanah perladangan terganggu,” paparnya.
Kendati demikian, para petani tak kehilangan akal. Salah satu upaya mengembalikan kesuburan tanah, adalah menggunakan pupuk kandang. “Pupuk kandang ampuh mengembalikan kesuburan tanah,” katanya.
Jimmi, 28, petani di Nagari Alahanpanjang, membenarkan bila kampungnya cenderung bertanam kentang dan lobak. “Tidak ada yang dominan seperti di Sungainanam fokus menanam bawang merah,” kata Jimmi yang tengah bertanam kentang dan cabai.
Sarjana sosial ini memprediksi produksi kentang 250 ton sepekan dari Alahanpanjang. Begitu juga lobak. “Pasarannya ke Pekanbaru, Padang, Bukittinggi, Padangpanjang, dan sebagainya,” katanya.
Jimmi menyebut produksi lobak di Alahanpanjang anjlok sejak setahun terakhir. Tanaman ini diserang virus yang sampai hari ini belum diketahui cara melawannya. “Kolnya tumbuh tapi tak berbuah. Ini penyakit yang bikin petani rugi,” kata Jimmi yang pernah mengalami kerugian puluhan juta akibat virus itu. (bersambung.........)

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di harian Padang Ekspres sekitar bulan Oktober 2015 silam. Saat itu, penulis masih menjadi reporter Padang Ekspres)


0 Komentar